Itu Buatanku!
Rizky sedang duduk di kursi meja belajarnya. Membaca ulang pelajaran yang sudah dijelaskan tadi, mengerjakan PR, dan sekarang dia sedang melanjutkan karangan cerpennya. Ya, Rizky memang suka membuat cerpen. Teman-teman perempuannya selalu menunggu cerpennya itu. Setelah satu cerpen itu selesai, banyak antrian teman-temannya yang bersedia membaca cerpennya, dan setelah dibaca, Rizky meminta mereka menuliskan komentar tentang cerpennya tersebut. Agar dia dapat membuat cerpen yang lebih baik dari sebelumnya.
“Hhh.., akhirnya selesai juga cerpennya…” Rizky pun melihat jam dindingnya, “ Sudah pukul 10 malam” Rizky pun mencari-cari handphone-nya, memasang alarm di handphone-nya tersebut, kemudian dia pun tertidur di ranjangnya yang empuk.
“Ky, cerpennya sudah selesai belum?”
“Ky, lihat cerpennya ya?”
“Ky, aku baca setelah Nana ya!”
“Aku keempat!”
“Kelima!”
“Keenam!” suara anak-anak perempuan bersahutan saat melihat Rizky datang. Dia pun langsung duduk di tempatnya dan mengeluarkan buku kecil tempat kumpulan cerpennya itu . Beberapa temannya pun menyambar buku tersebut dari tangan Rizky.
“Pusing Ky kalau sudah liat fans kamu rebutan buku,” ujar Raka, teman dekat Rizky.
“Sama aku juga” Rizky menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
KRIINGG !! Sebuah bel kebahagiaan, yang membuat wajah anak-anak di kelas 7c kembali menjadi ceria. Ya, itulah bel tanda istirahat. Semua anak pun berhamburan ke luar kelas. Ada yang duduk-duduk di bangku koridor, ada yang menjemput temannya di kelas lain, ada yang ke kamar mandi untuk buang air kecil atau hanya untuk sekadar ‘bercermin’ bagi anak perempuan, dan banyak juga yang ke kantin. Saat istirahat inilah perjuangan anak-anak untuk membeli makanan, berdesak-desakan, karena banyaknya anak yang bersekolah di sekolah itu dan tempatnya yang tidak memungkinkan untuk menampung anak sebanyak itu.
“Ke kantin yuk, Ky!” ajak Raka.
“….” Rizky tidak mengatakan apa-apa, hanya menjawab dengan anggukan kepala. Rizky dan Raka pun berjalan menuju kantin.
“Ky, sudah tau kalau ada lomba menulis cerpen belum?” Tanya Raka, memulai pembicaraan.
“Oh itu, sudah sih, tapi belum selesai. Tapi kira-kira besok sudah bisa selesai kok!”
“Besok aku mau baca yang pertama ya !”
“Haha, baiklah,” tanpa mereka sadari, ada dua orang perempuan yang mendekati mereka.
“Rizky kan? Pulang sekolah nanti bisa aku wawancarai tidak? Untuk tugas,” Rizky pun berpikir sejenak.
“Eh, emm insya Allah ya, Mba. Tapi saya hari ini piket, jadi maaf kalau lama.”
“Oh ya sudah, ditunggu di depan kelasmu sepulang sekolah ya!” Dua orang perempuan itu pun kembali berjalan, meninggalkan Rizky dan Raka.
KRRIING !! Bel kebahagiaan itu berdering lagi tetapi tanda yang lain, sekarang menandakan untuk pulang sekolah. Dengan segera, Rizky mengerjakan pekerjaan piketnya, merapihkan meja dan kursi, serta memunguti sampah besar. Selesai piket, dia mendatangi Mba Rara dan Lisa yang sudah menunggunya di depan kelas.
“Assalamualaikum...” mulai mereka berdua.
“Wa’alaikumussalam,” Rizky menjawab.
“Rizky, dengar-dengar kamu hobi menulis cerpen, apa benar?” Tanya Mba Rara.
“Iya Mba, benar,” Rizky pun menjawab sambil mengangguk.
“Sejak kapan kamu menulis cerpen? Dan sudah berapa cerpen yang kamu tulis ?” Mba Rara kembali bertanya. Rizky pun berpikir sejenak, kemudian menjawab pertanyaan tersebut.
“Rizky sih menulis kira-kira dari kelas 4 SD. Kalau cerpen yang ditulis, mungkin lebih dari 20 cerpen, tapi kurang dari 50 cerpen” jelas Rizky.
“Oh, begitu. Satu cerpen dapat kamu selesaikan dalam berapa hari?” kali ini Mba Lisa yang bertanya.
“Kalau itu sih tidak tentu. Kadang kalau lagi niat, tidak capek dan banyak ide, mungkin tidak lebih dari 5 hari”
“Lalu, darimana kamu mendapat inspirasi untuk membuat cerpennya?”
“Rizky sih kalau buat cerpen paling dari pengalaman, kisah Rizky sendiri atau dari cerita-cerita yang pernah diceritakan teman, dari buku-buku atau darimana pun yang dapat memunculkan ide.”
“Dari buku? Apakah kamu mencontek cerita dari buku karya orang ?”
“Eh tidak Mba, disitu kan sudah ada undang-undang tentang hak ciptanya yaitu kita tidak boleh dengan sengaja memperbanyak atau mengedarkan milik orang lain tanpa izin. Dalam berkarya, kita harus jujur, Mba !”
“Oke, bagaimana caramu membagi waktu antara belajar dengan membuat cerpen?”
“Nah, selain jujur kita pun harus disiplin, itu sangat penting bagi kehidupan, kita harus pintar membagi waktu. Caraku membagi waktu ya pulang sekolah itu langsung membuka buku, mengulang kembali pelajaran. Kalau rasanya sudah cukup baru membuat cerpen. Tapi saya sih dahulukan pelajaran daripada membuat cerpen. Membuat cerpen itu juga untuk mengisi waktu luang”
“Oke, kami rasa wawancaranya cukup sampai disini saja. Mohon maaf bila mengganggu, Wassalamualaikum,” mereka mengakhiri.
“Waalaikumussalam.” Dua orang perempuan itupun kembali berjalan menjauhi Rizky dan Raka.
“Enak ya Ky jadi orang terkenal dan pintar seperti kamu!” Rizky dan Raka pun berjalan pulang.
“Ah, enggak juga ah. Kadang kalau kita terkenal karena kepintaran kita, kita jadi malu kalau mendapat nilai jelek. Enakan juga menjadi orang yang biasa-biasa saja, bisa tenang!”
“Nah, kalau seperti itu kan jadi kamu rajin belajar terus agar tidak dapat nilai jelek”
“Haha, kamu juga bisa kan beajar?”
“Huh, selalu saja Raka yang kalah kalau adu ngomong sama Rizky! Besok aku baca cerpenmu yang pertama ya!”
“Baik bos, haha..”
“Ky, cerpenmu yang untuk lomba sudah jadi kan? Aku mau baca ya!” Rizky pun menengok ke kanan dan ke kiri, mencari Raka.
“Emm, eh, iya boleh, ini!” Rizky pun mencari-cari lembaran naskah cerpennya, dan memberikannya kepada Lulu, teman yang ada di depannya itu. Lulu pun kembali ke tempat duduknya, dan beberapa anak perempuan bergerombol mengelilingi tempat duduk Lulu.
“Ky, mana naskah cerpenmu itu? Sekarang aku mau baca!” sebuah suara mengagetkan Rizky, dia pun menengok ke kiri, tempat suara itu berasal. Raka! Ya, dialah pemilik suara tadi.
“Eh, maaf ya Rak, tadi Lulu meminta naskahnya dariku dan aku lihat kamu belum datang. Tidak apa-apa kan?” ucap Rizky dengan perasaan bersalah.
“Hhh, ya sudahlah tidak apa-apa. Ke depan yuk!” ajak Raka sambil tersenyum.
KRIINGG !! Bel kebahagiaan yang selalu datang saat pukul 10.00 itu kembali berdering. Sudah tau kan apa? Bel tanda istirahat!
“Ky, kemarin aku melihat kamu di halaman depan rumahmu dengan kakakmu itu, sedang mengerjakan naskah itu ya?” Tanya Lulu, menghampiri Rizky.
“Iya, tepat sekali, memangnya kenapa, Lu?” Rizky kelihatan kebingungan.
”Sudah kuduga…” Rizky menarik napasnya, menunggu lanjutan kata-kata dari Lulu, “Pasti kakakmu itu membantumu mengerjakan naskah itu kan?!” tuduh Lulu.
“Sembarangan ya kamu kalau ngomong, itu naskah hasil kerjaanku sendiri!” suara Rizky meninggi, perhatian seluruh ruangan kelas itu pun tertuju pada Lulu dan Rizky.
“Halah, itu pasti hanya ada-adaanmu saja, pantas saja kamu selalu menang juara-juara, dan aku selalu saja kalah,” Lulu tidak mau kalah.
“Loh? Memang kenapa kalau aku selalu menang juara sedangkan kamu tidak? Itu memang dari kemampuan diri kita sendiri kan?” Rizky pun kembali membalas.
“Eh, sudah sudah. Lulu, kalaupun naskah itu memang bukan hasil kerja Rizky sendiri memang kenapa? Toh Allah juga pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Biarlah Rizky sendiri yang menanggung akibatnya,” Fajar, ustad di kelas itu pun beraksi, melerai pertengkaran mereka berdua.
“Tapi kan Lulu tidak rela, Jar. Masa Lulu yang selalu berjuang untuk mengalahkan Rizky mati-matian yang berjuang sendiri tidak menang, tetapi Rizky yang dibantu oleh kakaknya yang menang. Itu kan tidak adil, Jar!” Lulu membela dirinya.
“Tidak, Jar, itu tidak benar. Rizky mengerjakannya sendiri kok, tidak dibantu oleh kakak Rizky!” suara Rizky mulai terdengar lagi.
“Lalu mau apa kakakmu itu datang jauh-jauh dari Bandung kalau tidak untuk membantumu? Coba deh, hadiah pemenang lombanya kan cukup besar, kau pasti tergiur!”
“Maaf ya, Lu. Rizky memang bukan orang kaya yang kalau minta apa-apa sama orang tua selalu dikabulkan. Rizky memang tidak seperti kamu, Lu!”
“Loh? Kok kamu malah membanding-bandingkan kamu sama Lulu sih?” keadaan semakin memanas.
“Sudah deh, Lu, tidak usah mencari masalah. Kamu hanya iri saja kepada Rizky kan? Kamu ingin menang dalam lomba itu kan?” Raka membela sahabatnya itu. Lulu terlihat kebingungan, mungkin sedang mencari jawaban?
“Lulu tidak mencari masalah kok. Lulu hanya ingin membuktikan kepada kalian semua kalau naskah cerpen Rizky itu bukan hasil kerjanya sendiri, tapi dibantu oleh kakaknya itu! Rizky tidak jujur!”
“Lulu, dengar ya, kakakku itu datang kesana bukan untuk membantuku mengerjakan naskah cerpen itu!” kali ini suara Rizky mulai merendah.
“Lalu untuk apa kakakmu itu datang kesana, hah?!” Tanya Lulu dengan muka sinisnya.
“Ya, hanya untuk mengunjungi keluarga saja, tidak lebih, apa itu salah?”
“Lalu, apa kakakmu sekarang sudah pulang ke Bandung? Dan sejak hari apa dia ke rumahmu?”
“Ya, memang kakakku hanya satu hari, itu karena dia sedang banyak kegiatan kuliah!”
“Apa itu cukup membuktikan bahwa naskah cerpenmu itu hasil kerja kerasmu sendiri?”
“Ya, itu memang tidak cukup. Tapi….” Rizky memutuskan kata-katanya.
“Tapi apa hah? Kau sudah tak punya alasan lain, ha kena kau!” kata Lulu dengan gaya menunjuk Rizky.
“Tunggu, lagipula kakakku kan tidak tau apa-apa tentang menulis cerpen. Bahkan cerpennya saat SMP dulu kan mendapat nilai terburuk di kelas! Ha kau yang kena!” Lulu kelihatan gugup.
“Kalau kau tidak percaya, coba saja tanyakan kepada guru-guru disini, kakakku dulu sekolah disini juga kok!” Rizky meneruskan kata-katanya.
“Emm.. Eh.. Ah.. Um..”
“Hei, ada apa ini anak-anak?” Tanya Bu Dewi yang kebetulan lewat kelas mereka. Fajar dan Raka pun menjelaskan apa yang barusan terjadi. Bu Dewi yang kebetulan adalah Wali Kelas Alfi, kakak Rizky, dulu pun menjelaskan yang sebenarnya kepada mereka.
“Ya, memang benar dulu itu nilai menulis cerpen Alfi sangat buruk di kelas, haha.. dia kan orangnya pemalas, tidak seperti Rizky yang rajin. Dan Ibu yakin kok bahwa cerpen ini memang hasil kerja keras Rizky sendiri. Ibu kan tau bagaimana sifat Rizky, cerpennya yang baru itu pasti tidak akan lebih buruk dari sebelumnya, dan selalu lebih bagus dan menarik. Jadi, Lulu tidak boleh berfikiran yang seperti itu ya?” Bu Dewi mengelus-ngelus rambut Lulu yang ditutupi oleh kerudung itu.
“Hehehe.., iya deh, Bu” kata Lulu nyengir.
“Jadi, apa itu semua sudah cukup membuktikan bahwa cerpen itu hasil buatanku sendiri kan Nyonya Lulu?” canda Rizky, diiringi dengan tawaannya dan teman-temannya.
“Iyaaaaa…”
“Ya sudah, kumpulkan naskah cerpennya ke Bu Reni yuk, Lu!” ajak Rizky.
“Rizky baik loh, Lu. Walaupun sudah kamu tuduh seperti itu tetap saja ngajak ngumpulin bareng..” canda Raka.
“Apa sih, Rak? Yuk, Ky!” Lulu pun berjalan menuju tempat duduknya, mencari naskah cerpennya, kemudian berjalan di samping Rizky, mengumpulkan naskah cerpennya tersebut kepada Bu Reni. Untung saja mereka semua tidak curiga dengan rencana jahatku itu, aku jadi tidak usah menanggung malu deh bisik Lulu dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar